( Al-Baqarah : 29).
Sunday, 23 October 2011
JENIS2 ISTISHHAB
Para ulama’
telah membahaskan tentang jenis-jenis istishhab ini. Antaranya ialah :
1.
Istishhab hukum asal
atas sesuatu jika tidak ditemukan dalil lain yang menjelaskannya; yaitu mubah
jika ia bermanfaat dan haram jika ia membawa mudharat dengan perbezaan pendapat
yang masyhur dikalangan para ulama tentangnya; yaitu apabila hukum asal sesuatu
itu adalah mubah atau haram. Salah satu contohnya adalah jenis makanan dan
minuman yang tidak ditemukan dalil yang menjelaskan hukumnya dalam Al-Qur’an
dan Al-Sunnah atau dalil lainnya seperti Ijma’ dan Qiyas. Bagi kes ini, para ulama
berbeza pendapat dalam tiga mazhab :
Pendapat pertama,
bahwa hukum asal segala sesuatu adalah mubah, hingga adanya dalil yang
menetapkan atau mengubahnya. Pendapat ini dipegang oleh Jumhur Mu’tazilah,
sebagian ulama Hanifiyah, Syafi’iyah dan Zhahiriyah.
Dalil-dalil mereka antara
lain adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang zahirnya menunjukkan bahwa pada dasarnya
segala sesuatu itu mubah, seperti firman Allah taala :
Bermaksud : “Dia-lah yang menciptakan
untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi”.
( Al-Baqarah : 29).
( Al-Baqarah : 29).
Ayat ini menunjukkan bahwa
sesuatu yang ada di bumi ini untuk dimanfaatkan oleh manusia, dan hal itu tidak
mungkin dimanfaatkan kecuali jika hukumnya mubah.
Selain itu,
Allah juga berfirman yang bermaksud :
“Katakanlah (wahai Muhammad) : ‘Aku tidak
menemukan dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan kepada
seseorang yang memakannya kecuali jika ia berupa bangkai, darah yang mengalir,
atau daging babi…”(al-An’am : 145).
Ayat ini menujukkan bahwa
apa yang tidak disebutkan di dalamnya tidak diharamkan karena tidak adanya
dalil yang menunjukkan pengharamannya dan menjadikan hukumnya adalah mubah.
Pendapat kedua,
bahawa hukum asal sesuatu itu adalah haram, hingga ada dalil syara’ yang
menetapkan atau mengubahnya. Pendapat ini dipegang oleh sebagian Ahl al-Hadits
dan Mu’tazilah Baghdad.
Alasan mereka adalah hanya
Allah sahaja yang berhak dalam menetapkan syariat dan hukum. Oleh itu, kita
sama sekali tidah boleh mengubah apa-apa hukum melainkan ada padanya nas yang
mengubahnya.
Pendapat ketiga,
bahawa hukum asal segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah, sementara yang
membawa mudharat adalah haram. Pendapat ini dipegang oleh Jumhur ulama. Dan
mereka menggunakan dalil pendapat yang pertama untuk menguatkan bahawa hukum
asal sesuatu yang bermanfaat adalah mubah dan dalil pendapat yang kedua untuk
menegaskan bahwa hukum asal sesuatu yang membawa mudharat adalah haram.
2.
Istishhab al-Bara’ah
al-Ashliyah, atau bahawa hukum asalnya seseorang itu terlepas dan bebas dari
beban dan tanggungan, hingga datangnya dalil atau bukti yang membebankan ia
untuk melakukan atau mempertanggungjawabkan sesuatu.
Sebagai contoh, jika ada seseorang yang
menuduh bahawa orang lain berhutang padanya, sementara ia tidak boleh mendatangkan
bukti terhadap tuduhan itu, maka yang tertuduh dalam hal ini tetap berada dalam
posisi bebas hutang atas dasar al-Bara’ah al-Ashliyah ini.
3.
Istishhab hukum yang
ditetapkan oleh Ijma’ pada saat berhadapan dengan masalah yang masih
diperselisihkan.
Salah satu contohnya adalah bahawa para
ulama telah berijma’ akan batalnya solat seseorang yang bertayammum kerana
ketiadaan air di saat ia menemukan air sebelum solatnya. Adapun jika ia melihat
air pada saat sedang mengerjakan solatnya; apakah solatnya juga batal atas
dasar Istishhab dengan Ijma’ tersebut, atau solat tersebut tetap sah dan ia tetap
boleh meneruskannya?
Imam Abu Hanifah dan beberapa ulama lain
seperti Al-Ghazaly dan Ibnu Qudamah berpendapat bahwa dalam masalah ini
Istishhab dengan Ijma’ terdahulu tidak dapat dijadikan landasan, kerana berbezanya
keadaan yang disebutkan dalam Ijma’. Oleh sebab itu, ia harus berwudhu’
kembali.
Sementara Imam Al-Syafi’i dan Abu Tsaur
berpendapat bahwa Istishhab Ijma’ ini dapat dijadikan sebagai hujjah hingga ada
dalil lain yang mengubahnya. Oleh sebab itu, solatnya tetap sah atas dasar
Istishhab keadaan awalnya iaitu ketiadaan air untuk berwudhu’.
Sekian..wallahu’alam
~ sharing is caring..(^_~) ~
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment